“Jangan pegang-pegang Kucing !!!”
Aprilo 21, 2006 je 4:22 atm | Blogis en Parenting | KomentuSi Sulung saya menderita asma. Bila kambuh karena terpicu suatu hal, Ia akan batuk-batuk kadang sampai satu bulan penuh. Ia alergi terhadap tungau debu rumah, bulu-bulu, es dan suhu dingin juga udara yang kelewat kering maupun yang terlalu lembab.
Dulu, ketika saya seumur dia, saya punya sembilan ekor kucing. Masing-masing punya nama, dan menjadi kawan bermain saya. Kini, demi kesehatan si sulung, tak satupun binatang berbulu boleh menginjakkan kaki dirumah kami. Kecuali, seekor kucing hitam kurus, yang setiap pagi mengeong didepan pintu. Hanya sampai didepan pintu. Si Sulung juga adiknya, selalu menunggu kedatangan Miu -nama pemberian kami-. Karena anak-anak suka –sebenarnya saya juga-, saya siapkan wadah makan khusus buat Miu. Juga mangkuk kecil, tempat Miu menikmati susu sisa.
Saya buat perjanjian ketat, si sulung dan adiknya boleh memberi makan Miu. Selebihnya, seperti mengelus, menggendong, terlarang. Saya tahu, si Sulung begitu ingin mengelus Miu. Beberapa kali diam-diam saya pergoki dia tengah mengusap punggung Miu, dan berbicara dengan suara lembut kepadanya. Biasanya dengan tegas, saya langsung perintahkan si sulung mencuci tangannya dan menjauh dari Miu.
Saya tidak sampai hati menyampaikan kepada si Sulung, bahwa bulu halus Miu merupakan ancaman bagi saluran pernapasannya yang sensitif. Terlalu banyak hal terlarang bagi si sulung, sehubungan dengan sakitnya. Maka saya peringatkan dengan cara sederhana. “Jangan sentuh Miu, Miu kotor, dia tidak pernah mandi”.
Sekalipun saya selalu menghardik-hardik tiap kali Miu mendekati anak-anak, tampaknya Ia tahu kami sayang kepadanya. Miu beranak dipojok gudang kami. Miu dan dua anaknya, tak terelakkan, kini menjadi anggota keluarga kami. Ritual si sulung pun bergeser, tiap bagi begitu membuka mata, Ia langsung melompat dan berlari menengok Miu dan anaknya. Anak-anak Miu tumbuh sehat dan lucu. Godaan untuk tidak memegang kucing semakin tak tertahankan. Sementara saya, diliputi kecemasan.
Suatu hari saya dapati, si sulung menimang dan mendekap anak-anak Miu. Si sulung berkilah, bahwa Ia tidak menyentuh Miu yang kotor. Ia hanya menggendong anaknya yang lucu, gendut dan bersih. Saya hilang argumen, “Anak-anak Miu juga kotor, sama seperti ibunya, mereka tidak pernah mandi”, sergah saya. Terpaksa saya keluarkan ultimatum, bila si sulung kedapatan memegang dan menggendong Miu dan anaknya. Maka Miu sekeluarga akan disingkirkan dari rumah kami. Peringatan ini tampaknya berhasil. Si sulung selama beberapa hari, hanya mengamati dari jauh polah si Miu dan anak-anaknya. Saya merasa tenang.
Karena tak pernah mandi
Gudang kami mulai beraroma tak sedap. Miu membawa oleh-oleh seekor tikus mati, untuk kedua anaknya. Kali lain, Miu membawa kadal juga cicak. Saya mulai gusar, ingin segera menyingkirkan keluarga Miu. Tapi si Sulung membela mati-matian. Saya terpaksa mengalah. Larangan menyentuh, mengelus, menggendong masih berlaku. Saya tahu, si sulung tanpa sepengetahuan saya, berkontak fisik dengan kucing-kucing itu. Biasanya begitu mendengar langkah saya, Ia bergegas berdiri dan cepat mencuci tangan. Saya meresponnya dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tentang betapa joroknya si kucing. “hi.. kotor, jijik, mereka makan tikus mentah lho”. Saya berharap, si sulung terpengaruh oleh pernyataan saya. Karena saya tahu sekali, si sulung sangat tidak tahan berdekatan dengan sesuatu yang menurut dia tidak bersih.
Sampai suatu hari, disebuah sabtu siang yang sarat matahari. Si sulung menghampiri saya dengan mata berbinar dan berbisik “anak-anaknya miu aku mandikan”. “Hah !!!” pekik saya kaget, sambil menghambur keluar. Disana dibawah kran tempat kami mencuci baju, sebuah ember biru berisi air. Didalamnya anak-anak Miu terapung-apung. Sambil cepat memberikan pertolongan, saya pun mengomel. “ini anak Miu bisa mati kalau kamu rendam begini”, teriak saya. Syukurlah, dua anak kucing yang malang itu tertolong.
Saya baru menyadari kesalahan saya, ketika si Sulung dengan ekspresi kecewa berkata: “..kan mama sendiri yang bilang, kalau anak-anak Miu itu kotor karena tidak pernah mandi”.
Sampaikan dengan benar
Saya mendapat pelajaran mahal dari peristiwa itu. Pertama, saya sudah menteror anak saya dengan pernyataan-pernyataan negatif. Saya membuat anak saya memiliki pemahaman yang keliru. Sekalipun si kucing "kotor", tak mungkin memintanya untuk mandi dua kali sehari seperti kita.
***Dari Buku: 20 point penting dalam menghias jiwa dan perilaku anak.
Komentu »
La komentoj de tiu ĉi afiŝo kiel RSS. URI de "Trackback"
Lasu respondon
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Enskriboj kaj komentoj feeds.